Sejarah Pramuka Di Indonesia

Posted on

Sejarah Pramuka Di Indonesia cukup panjang, bahkan sebelum Indonesia merdeka organisasi kepanduan sudah bermunculan. Membahas sejarah pramuka tentunya kurang kalau kita juga tidak membahas definisi Pramuka, sejarah pramuka dunia, sejarah pramuka di Indonesia. Foto atau gambar Pramuka pada zaman dulu, arti lambang pramuka, siapa pendiri pramuka sampai tingkatan pramuka.

Langsung saja sejarahbangsa.com sajikan sejarah pramuka di Indonesia mulai dari definisi pramuka itu sendiri.

PRAMUKA adalah singkatan dari Praja Muda Karana. ini Yang berarti anak anak muda yang suka berkarya. Gerakan Pramuka sebagai organisasi nonformal namun diakui di seluruh dunia. Sehingga nama pramuka diberbagai negara bisa berbeda dan beragam.

Sejarah Pramuka Di Indonesia
Presiden Soekarno melantik Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (Foto: istimewa)

Sejarah Singkat Pramuka di Indonesia

Sejarah berdirinya Pramuka di Indonesia perlu kita ketahui, Sejarah Pramuka Dunia bermula dari bapak pendiri pramuka lord baden powell. Anda bisa membaca Biografi Baden Powell

Gerakan Pramuka atau yang juga disebut kepanduan di Indonesia sudah ada sejak tahun 1923. Ditandai dengan didirikannya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) oleh Belanda di Bandung. Serta pada tahun yang sama juga Belanda mendirikan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Jakarta.

Dua Organisasi ini merupakan cikal bakal berdirinya organisasi kepanduan di Indonesia dan menjadi catatan sejarah Pramuka Indonesia. Kemudian pada tahun 1926 di Bandung, kedua organisasi ini melebur menjadi satu dan berubah nama menjadi Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO).

Setelah Indonesia merdeka, terjadi peristiwa yang kemudian disebut sebagai Hari Pramuka. Peristiwa itu yaitu Pelantikan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas), Kwartir Nasional (Kwarnas), dan Ketua Kwartir Nasional Harian (Kwarnari) di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk ditunjukan kepada masyarakat umum yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka. Kesemuanya ini terjadi pada 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Pramuka, oleh karena itu pramuka diperingati setiap tanggal 14 Agustus.

Itu tadi sejarah singkat Pramuka di Indonesia secara singkat. Untuk lebih detail asal usul sejarah gerakan pramuka atau gerakan kepanduan bisa lahir di indonesia mulai dari masa Hindia Belanda, Masa Tentara Jepang, Masa Kemerdekaan Republik Indonesia, sejarah lambang gerakan pramuka tunas kelapa simak catatan sejarah pramuka di Indonesia yang berhasil kami rangkum berikut ini.

Sejarah Awal Pramuka di Indonesia

Masa Hindia Belanda

Sejarah berdirinya pramuka di Indonesia bermulah dari adanya cabang Nederlandse Padvinders Organisatie (NPO) pada Tahun 1912 di Bandung yang kemudian pada tahun 1916 berganti naman menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV). Pada tahun yang sama yakni 1916 Mangkunegara VII memprakarsai Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) yang merupakan organisasi kepramukaan pertama yang diprakarsai oleh bangsa indonesia.

Organisasi kepramukaan yang diprakarsai oleh Mangkunegara VII tentunya sejalan dengan pergerakan nasional.

Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) sama seperti halnya Padvinder Muhammadiyah yang pada 1920 berganti nama menjadi Hizbul Wathan (HW), Nationale Padvinderij yang didirikan oleh Budi Utomo, Syarikat Islam Afdeling Padvinderij yang didirikan oleh Sarekat Islam yang kemudian akhirnya diganti menjadi Syarikat Islam Afdeling Pandu dan dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ) yang didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB), dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) yang didirikan oleh Pemuda Indonesia.

Akhirnya keinginan bersatu organisasi kepramukaan ini dapat terjadi ditandai dengan terbentuknya Persaudaraan Antara Pandu Indonesia (PAPI), yang merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO), Sarekat Islam Afdeling Pandu (SIAP), dan Nationale Islamitsche Padvinderij (NATIPIJ) pada 23 Mei 1928.

Persaudaraan Antara Pandu Indonesia (PAPI) atau federasi kepramukaan ini tidak bertahan lama, tepatnya pada April 1938 karena ada keiginan untuk melakukan pengabungan akhirnya berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) pada 1930 yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij), dan PK-Pandu Kebangsaan. PAPI kemudian berubah menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI).

Dalam upaya untuk mempererat kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) merencanakan untuk melaksanakan “All Indonesian Jamboree”. Dalam prosesnya rencana ini sempat mengalami beberapa perubahan, baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati dilaksanakan pada tanggal pada 19–23 Juli 1941 di Yogyakarta. dengan nama kegiatan “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem” disingkat PERKINO.

Masa Republik Indonesia

Kira-kira satu bulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, lebih dari satu tokoh kepramukaan berkumpul di Yogyakarta dan membuat kesepakatan membentuk sebuah Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai sebuah panitia kerja. Hal ini menegaskan telah terbentuknya satu wadah organisasi kepramukaan yang bukan untuk beberapa kolompok saja namun untuk semua bangsa Indonesia. Kemudian panitian ini juga langsung mengadakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia.

Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia akhirnya terlaksana dan dilaksanakan selama tiga hari tepatnya pada tanggal 27–29 Desember 1945 bertempat di Surakarta. Hasil dari kongres ini adalah terbentuknya organisasi Pandu Penduduk Indonesia. Dikuatkan dengan “Janji Ikatan Sakti” dan didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh perkumpulan Pandu Penduduk Indonesia, kemudian diakui secara formal sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan oleh pemerintah Republik Indonesia yang ditetapkan bersama aturan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.

Periode awal kemerdekaan Republik indonesia menjadi tahun-tahun yang cukup sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena Belanda masih menyerang Republik Indonesia. Pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948, waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan YME. Beliau akhirnya gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang menunjukan cintanya kepada negara, tanah air, dan bangsanya.

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Pandu Rakyat dilarang berdiri di daerah yang masih diduduki Belanda. Keadaan yang cukup sulit bagi kepanduan ini akhirnya mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Pada masa perjuangan bangsa Indonesia belum sepenuhnya berkahir, bangsa indonesia masih menggunakan senjata untuk mempertahankan negeri tercinta dari penjajahan Belanda. Kondisi waktu itu merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepramukaan di Indonesia.

Masa Berakhirnya Perjuangan Bersenjata

Setelah berakhirnya perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan. Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II pada tanggal 20–22 Januari 1950 di Yogyakarta.

Hasil dari kongres kedua ini memutuskan untuk menerima konsepsi baru. Yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing. Kemudian terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia. Dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951, secara resmi Pemerintah Indonesia mencabut pengakuan bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepramukaan di Indonesia. Dengan ini dipastikan bahwa keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 berakhir.

Sekitar sepuluh hari sesudah dikeluarkanya keputusan Menteri No. 2334/Kab., wakil-wakil organisasi kepramukaan mengadakan konfersensi bertempat di Jakarta. Dari konfrensi tersebut diambil keputusan untuk mendirikan Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi, tepatnya pada tanggal 16 September 1951.

IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia)

Kemudian pada 1953, Ipindo berhasil menjadi anggota kepramukaan sedunia. Ipindo merupakan federasi untuk organisasi kepramukaan putra. Sedangkan untuk organisasi puteri terdapat dua federasi, yakni Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia (POPPINDO) dan Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI). Uniknya kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia pada tanggal 3 Desember 1934. Dalam rangka kunjungan keliling ke beberapa negara, waktu kembali dari Jambore di Australia.

Bertepatan dalam rangka peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10, Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional pada tanggal 10–20 Agustus 1955 bertempat di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta. Ipindo sebagai media pelaksana kegiatan kepramukaan merasa perlu mengadakan seminar untuk mendapatkan gambaran guna menjamin kemurnian serta kelestarian hidup kepramukaan.

Seminar tersebut diadakan pada Januari 1957 bertempat di Tugu, Bogor. Seminar ini menghasilkan suatu rumusan yang nantinya rusumusan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi setiap gerakan kepramukaan di Indonesia. Dengan begitu, kepramukaan yang ada di Indonesia dapat dipersatukan.

Setahun kemudian, tepatnya pada November 1958, Pemerintah RI (Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K) atau Departemen PP dan K) mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat dengan topik “Penasionalan Kepanduan”.

Jika pada 10–20 Agustus 1955 Jambore untuk putra dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu, Jakarta. Kali ini PKPI menyelenggarakan perkemahan besar khusus untuk putri yang disebut dengan Desa Semanggi bertempat di Ciputat, Tangerang Selatan. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun 1959 juga Ipindo mengirimkan kontingennya untuk mengikuti Jambore Dunia X di Los Baños, Laguna, Filipina.

Sejarah pramuka indonesia tidak berhenti sampai disini, pramuka di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang.

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka di Indonesia

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka lahir pada 1961. Jadi, kalau akan menyimak latar belakang lahirnya gerakan Pramuka, kita perlu meninjau keadaan, kejadian, dan peristiwa sekitar tahun 1960.

Sebelum tahun 1960, jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah saat itu tentunya tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan. Peraturan pemerintah yang muncul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960 tertanggal 3 Desember 1960 mengenai Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana.

Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330 C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila.

Ketetapan Gerakan Pramuka di Indonesia

Selanjutnya, penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan disetujuinya rencana pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kepanduan kemudian dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).

Ketetapan itu memberi kewajiban agar pemerintah melaksanakannya. Hal inilah yang membuat Presiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia di Istana Negara.

Presiden Soekarno saat itu mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr. A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi, dan Pembangunan Masyarakat Desa).

Panitia itu tentulah perlu suatu pengesahan. Inilah yang membuat terbitnya Keputusan Presiden RI No. 112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada 9 Maret 1961.

Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato presiden dengan keputusan presiden itu. Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono.

Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka

Kelahiran Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan antara lain:

Hari Tunas Gerakan Pramuka.

Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.

Hari Permulaan Tahun Kerja

Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tertanggal 20 Mei 1961. Keputusan terkait Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia. Juga mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk, dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional, tetapi bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ketiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.

Hari Pramuka

Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka. Pernyataan itu dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka;
Pelantikan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas), Kwartir Nasional (Kwarnas), dan Ketua Kwartir Nasional Harian (Kwarnari) di Istana Negara. Diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka. Kesemuanya ini terjadi pada 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Pramuka.

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Sri Sultan Hamengkubuwono
Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Sri Sultan Hamengkubuwono IX menerima panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno pada 14 Agustus 1961 foto koleksi museum sumpah pemuda

Lambang Gerakan Pramuka

Lambang gerakan Pramuka

Selanjutnya kita akan membahas tentang sosok pencipta lambang gerakan pramuka, anturan penggunaan lambang pramuka dan perlu diketahui juga bahwa lambang gerakan pramuka sudah dipatenkan.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Gerakan Pramuka berlambangkan tunas kelapa. Pencipta lambang gerakan pramuka adalah Sumardjo Atmodipuro. Beliau merupakan seorang pembina Pramuka yang aktif bekerja sebagai Pegawai Tinggi Departeman Pertanian. Lambang gerakan pramuka mulai digunakan sejak tanggal 14 Agustus 1961 dalam Panji-Panji Gerakan Pramuka yang dianugerahkan kepada Gerakan Pramuka oleh Presiden Republik Indonesia, Soekarno.

Kemudian penggunaan lambang gerakan Pramuka sebagai lencana dan penggunaannya dalam tanda-tanda, bendera, papan nama, dan sebagainya diatur dalam Petunjuk-Petunjuk Penyelenggaraan Pramuka.

Lambang gerakan Pramuka berupa tunas kelapa. Sesuai dengan SK Kwartir Nasional No. 6/KN/72 Tahun 1972. Serta telah mendapat hak paten dari Ditjen Hukum dan Perundangan-Undangan Departeman Kehakiman dengan Keputusan Nomor 176634 tanggal 22 Oktober 1983, Nomor 178518 tanggal 18 Oktober 1983 tentang hak paten gambar tunas kelapa yang dilingkari padi dan kapas. Serta No. 176517 tanggal 22 Oktober 1983 tentang hak paten tuliasan Pramuka.

Sekain pembahasan kami tentang sejara pramuka di Indonesia lengkap beserta sejarah kepramuka di Indonesia mulai dari sejarah awal pramuka masa hindia-belanda hingga pasca proklamasi kemerdekaan. Artikel ini disadur dan disunting seperlunya dari blog sahabat Gramedia.com

Untuk informasi lebih detail tentang arti lambang gerakan pramuka, dasa dharma pramuka, tingkatan pramuka dan lainnya yang berhubungan dengan Pramuka akan kami bahas dalam artikel selanjutnya.

Jika ada pertanyaan maupun saran untuk sejarahbangsa.com silahkan sampaikan pada kolom komentar.

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *