Konsep Berpikir Sinkronik

Posted on

Konsep berpikir sinkronik? Pengertian berpikir sinkronik? ciri berpikir sinkronik? contoh berpikir sinkronik?kami akan bahas pada kesempatan kali ini.

Konsep berpikir sinkronik berhubungan dengan kejadian masa lalu. Pengalaman hidup manusia pada masa lampau dan akan terus berlangsung sepanjang usia manusia adalah sejarah.

Pengertian sejarah menurut Moh Yamin, Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan. Dalam sejarah, manusia diposisikan sebagai subjek dan objek dalam sejarah. Manusia menjadi sejarah karena keberadaannya memengaruhi kehidupan.

Konsep Berpikir Sinkronik - sejarah bangsa

Mempelajari sejarah memiliki manfaat yang begitu besar, sejarah merupakan pengalaman manusia yang paling baik, melalui sejarah manusia bisa mengambil pelajaran, pengingat, inspirasi dan motivasi supaya lebih baik lagi untuk masa depan. Oleh karena ini diperlukan konsep berpikir sinkronik untuk membantu menuliskan sejarah dengan tepat dan mudah dipahami.

Kesempatan kali ini sejarahbangsa.com akan membahas Pengertian berpikir sinkronik? konsep berpikir sinkronik? ciri berpikir sinkronik? contoh berpikir sinkronik? Lansung saja ke pembahasan terkait konsep berpikir sinkronik.

Pengertian Berpikir Sinkronik

Pertama akan kami bahas Pengertian Berpikir Sinkronik, sinkronik atau sinkronis berasal dari bahasa Yunani. Dalam kats Sinkronik terdapat dua kata yakni Syn yang memiliki arti dengan, sementara untuk Khronos memiliki arti waktu atau masa.

Pengertian Berpikir Sinkronik adalah konsep atau metode pengembangan kejadian yang terjadi di masa lampau atau masa lalu.

Berpikir sinkronis juga dapat diartikan sebagai metode analisis terhadap sesuatu yang terjadi pada masa lalu atau masa lampau.

Setiap kejadian yang terjadi pada masa lalu atau lampau bisa digali dengan menggunakan cara berpikir sinkronik. Biasanya Pendekatan sinkronik dipakai pada ilmu sosial.

Metode berpikir sinkronik dapat dikatakan analisis yang dilakukan akan dibedah secara runtut. Runtut di sini adalah setiap aspek yang bisa berhubungan kejadian yang terjadi di masa lalu.

Sebab setiap kejadian pasti ada banyak hal yang saling berkaitan. Contohnya adalah pada peristiwa perang Surabaya 10 November 1945 maupun peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Dari kejadian tersebut dapat dianalisa mulai dari tempat kejadian, tokoh yang terlibat, dampak yang terjadi dari peristiwa tersebut, dan berbagai hal lainnya.

Setiap analisis yang dilakukan dengan pendekatan berpikir sinkronik akan tetap berpusat pada titik waktu yang sama, namun ada beberapa hal yang diperlebar dari setiap peristiwa masa lalu yang sedang dianalisis tersebut.

Tujuan berpikir sinkronik

Tujuan berpikir sinkronik dalam mempelajari sejarah adalah untuk melihat segala sesuatu perubahan yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada suatu masa.

Ciri-ciri Berpikir Sinkronik

Berikut ciri-ciri berpikir sinkronik

Bersifat Horizontal

Ciri-ciri berpikir singkronik bersifat horizontal yang dimaksud disini adalah adanya proses untuk mengkaji peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu. Tujuan dari proses mengkaji peristiwa masa lalu adalah untuk dapat mendalami apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu namun fokus tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Sebagai contohnya adalah proses perang Surabaya 10 November 1945. Dalam hal ini tujuan mengkaji kejadian masa lalu adalah membuat kita semua mengerti apa saja yang terjadi pada perang surabaya saat itu.

Namun fokus waktu yang digunakan hanyalah pada tanggal 10 November 1945 saja. Dengan begini tentunya bisa disimpulkan mengkaji peristiwa masa lalu bisa memberikan banyak sekali pengetahuan atau informasi hal yang mempengaruhi kejadian tersebut pada waktu tertentu.

Tidak Memiliki Konsep Perbandingan

Peristiwa sejarah yang terjadi pada suatu tempat dan waktu tertentu tidak akan sama dengan peristiwa sejarah di tempat lainnya. Setiap peristiwa sejarah memiliki kisahnya sendiri, hal ini berarti suatu peristiwa sejarah tidak bisa dibandingkan dengan peristiwa sejarah lainnya karena tidak sama.

Bersifat Kronologis

Dalam Penyusunan suatu peristiwa sejarah harus dilakukan secara kronologis, artinya peristiwa-peristiwa sejarah harus disusun berdasarkan urutan waktu kejadiannya.

Dalam lingkup sejarah, kronologi sebagai penentuan waktu suatu kejadian pada masa lalu. Secara etimologis, kronologi bersumber dari bahasa Yunani, chronos yang artinya waktu dan logos berarti ilmu.

Cara berpikir kronologi dapat mempermudah seseorang dalam melakukan rekonstruksi terhadap semua peristiwa masa lalu dengan tepat

Kajian Lebih Terstruktur

Berpikir singkronis berarti kajian peristiwa sejarah harus terstruktur. Baik dari struktur sosial, masyarakat, politik, ekonomi, hingga budaya.

Dengan kajian lebih terstruktur data atau informasi yang dihasilkan dari analisis suatu peristiwa yang terjadi pada masa lalu akan lebih lengkap. Dengan kajian yang lebih terstruktur akan lebih bermanfaat untuk memahami apa yang telah terjadi di masa lalu.

Kajian yang Sistematis

Yang dimaksud kajian yang sistematis adalah kajian yang lebih mendalam dan serius.

Dalam poin ini lebih difokuskan pada keadaan detail analisis yang dilakukan dalam suatu kejadian dengan pendekatan berpikir sinkronik. Dimana peristiwa yang terjadi dalam satu waktu harus dianalisis lebih dalam.

Tentunya keadaan mengkaji lebih dalam dengan kurun waktu tertentu atau singkat memiliki tingkat kesulitan yang cukup. Selain itu hasil yang didapatkan juga akan lebih serius atau lebih lengkap.

Sebab semua aspek yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh suatu kejadian akan bisa didapatkan secara lebih lengkap jika menggunakan pendekatan berpikir sinkronik.

Jangkauan lebih sempit

Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika proses analisis yang dilakukan dalam pendekatan berpikir sinkronik pada suatu kejadian masa lalu hanya berfokus pada satu waktu saja. Hal tersebut membuat suatu kajian yang dilakukan juga bisa saja menjadi lebih sempit.

Sebagai contohnya adalah dua kejadian pada masa lalu dengan ruang waktu yang berbeda. Dimana satu kejadian terjadi dalam satu hari, sedangkan kejadian yang kedua terjadi pada waktu kurang lebih 5 hari.

Tentunya untuk bisa menerapkan pendekatan berpikir sinkronik akan dipilih suatu kejadian atau peristiwa masa lalu dengan ruang lingkup waktu satu hari.

Contoh Berpikir Sinkronik

Contoh konsep berpikir sinkronik

Kami ambil contoh berpikir sinkronik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Berpikir sinkronik dengan menyertakan cara berpikir ilmu-ilmu sosial.

Misalnya dalam materi demokrasi liberal 1950-1959 yang dilihat secara kondisi ekonominya.

Meskipun Indonesia telah merdeka, tetapi kondisi ekonomi pada saat demokrasi liberal masih sangat buruk.
Faktor yang menyebabkan ekonomi tersendat pada waktu itu, adalah:

  • Indonesia hanya mengandalkan satu jenis ekspor hasil bumi
  • Bangsa Indonesia menanggung beban ekonomi dan keuangan yang telah ditetapkan dalam Konferensi Meja Bundar
  • Defisit yang harus ditanggung pemerintah pada waktu itu sebesar Rp 5,1 miliar yang dirancang Belanda
  • Pemerintah belanda tidak mewarisi nilai-nilai yang cukup untuk mengubah sistem ekonomi kolonial menjadi nasional
  • Situasi keamanan dalam negeri yang tidak menguntungkan
  • Tidak stabilnya situasi politik dalam negeri mengakibatkan banyak pengeluaran diluar rencana
  • Jumlah angka pertumbuhan penduduk yang besar

Dari uraian ekonomi tersebut dapat direkonstruksikan dengan berpikir sinkronik, yaitu menganalisa permasalahan ekonomi masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Liberal.

Dengan melibatkan cara berpikir ilmu sosial maka kajian sejarah akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di masa yang akan datang.

Pada masa Demokrasi Liberal dapat dianalisa bagaimana kondisi ekonomi masyarakat saat itu dalam memperjuangkan hidupnya setelah merdeka.

Peristiwa sejarah tidak lepas dalam konsep ruang dan waktu. Ruang merupakan tempat suatu peristiwa terjadi, sedangkan waktu adalah saat terjadinya peristiwa sejarah

Konsep berpikir sinkronik diperlukan dalam menganalisa suatu peristiwa sejarah agar lebih terstruktur. Dengan berpikir sinkronik kita menjadi lebih mudah memahami suatu peristiwa sejarah dimasa lampau.

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *